Monday, March 14, 2016

My Wedding Preparation Part 2: Review Catering, Testfood dan Paket Pernikahan 2016


Hai, Setelah kemaren Kang mas akhirnya ketemu bokap nyokap gue dan secara resmi meminta izin mereka berdua buat melamar gue (acara lamaran direncanakan bulan Agustus 2016), sekarang gue mau sharing tentang catering, testfood dan paket pernikahan yang pernah gue survey dan selidiki di tahun 2016.

Awal tahun 2016 lalu, gue dan Kang mas sudah menentukan waktu yang terbaik bagi kami berdua untuk melangsungkan pernikahan, yang tentunya sudah kami sesuaikan dengan jadwal kosong gedung incaran hasil survey gue sebelumnya (Ini penting sodara-sodara!), yaitu di akhir tahun 2016, dimana Kang mas telah menyelesaikan Skripsinya dan siap kembali ke kantor.

Berdasarkan hasil hunting gedung kemaren, gue memilih Balai Sespimma, Selapa Polri, sebagai Venue pernikahan gue dan Kang mas nanti, dan alhamduliilah Kang mas menyetujuinya. Dikarenakan kita lagi LDR-an, jadi yang hunting dan survey cuma gue sendiri T.T Kang mas tinggal mendengar laporan dan menyatakan persetujuannya. Alhamdulillah selalu ada nyokap, atau adik gue, atau temen gue si Tardut yang siap menemani, trimikisi guys :)

Untuk Catering yang mau gue sambangi dan survey, gue cukup tahu diri dengan budget, jadi gue tidak menyambangi Catering sekelas Puspita Sawargi ataupun Alfhabet demi kemaslahatan kantong dan dompet, hehe. Langsung Ajah ya gue ceritakan pengalaman survey dan testfood gue ;)

Safa Catering (testfood di Masjid Pondok Indah)
Waktu itu gue sebenernya lagi survey Masjid Pondok Indah, dan ternyata hari itu lagi ada dua acara pernikahan, salah satunya pakai catering ini. Marketingnya namanya Mba IIN (085880963696) dan beliau ramah dan cukup informatif. Adat yang dipakai waktu gue testfood adalah adat padang. Paketnya cukup komplit, untuk adat padang sudah termasuk dengan tarian talempongnya yang sangat meriah dan berkesan. Sayang karena rendahnya langit-langit di Masjid Pondok Indah ini, pelaminan adatnya jadi minus atap bagunjuangnya... sehingga membuat nilai venue jadi minus di mata gue. Selain pelaminan, untuk dekorasi Mba IIN tidak menyisihkan makanan khusus untuk testfood, sehingga beliau memperbolehkan kami untuk ngider layaknya tamu lainnya. Menurutnya, makanan sudah dilebihkan untuk para capeng yang mau melakukan testfood. Ini pertama kalinya gue testfood, tapi sebelum-sebelumnya gue sudah pernah kondangan, jadi hasil testfood gue, overall makanan Syafa Catering ini nilainya 7. Menunya padang banget, mulai dari Rendang, Ayam Sambel hijau (Bumbunya enak, cuma ayamnya kecil-kecil), dan lain-lain. Namun ada yang disayangkan yaitu nasi gorengnya terlalu kering dan siomaynya kurang enak menurut selera gue. Harga paketannya untuk 600 porsi per awal tahun 2016 Rp.58.000.000,- belum termasuk organ tunggal dan menurut gue harga doi termasuk murah. Namun gue engga serta merta langsung depe karena seperti layaknya costumer lainnya, tentu gue mau banding-bandingin dulu dong dengan toko sebelah :)

Chikal Primarasa Catering (testfood di Balai Makarti Muktitama)
Balai Makarti Muktitama sebenarnya adalah gedung incaran utama gue karena bentuknya yang berupa pondokan, bakalan dapet banget kalau gue pakai adat Jawa, sayang di sayang... Full Booked untuk tahun 2016. Well, back to catering! Gue pertama kali menghubungi Chikal melalui SMS, dan agak lama beberapa hari baru di balas (Sibuk kali cin, secara ini nomor pemiliknya langsung). Balasannya sekaligus mengundang testfood, dan gue bersama nyokap pun pergi ke Balai Makarti di hari Sabtu Malam. Untuk dekorasi Chikal lumayan okey dan ramai, adat yang dipakai adat jawa full gebyok putih (Jangan minta foto, ane survey jarang ambil foto soalnya) dan riasannya juga bagus (hasil pantauan dari jauh, haha). Untuk makanannya rasanya dibanding catering sebeumnya lebih enak, nilainya 8 lah, tapi nasi gorengnya agak kekeringan sedikit. Gue suka, cuma, harganya buat kantong kita masih agak melebihi budget, tapi kita keep dulu, toh budget bisa diakalin, hehe. (CP: 081386061188)

Naurah Catering (testfood di Makodam UKI)
Soal rasa dan tekstur makanan, menurut gue Naurah Catering sangat TOP, overall nilai 8.5, kecuali chiken cordon bluenya, bukan ga enak, cuma agak ketebalan saja, kelihatan seperti roti goreng. Ownernya mas A Robi pun ramah dan sigap dalam menanggapi pertanyaan. Untuk dekorasi, standarlah, tidak terlalu wuah, juga tidak terlalu apa adanya, lumayan, dan untuk perias, Naurah punya beberapa rekanan yang bisa kamu kepoin di Instagram seperti Sanggar Miladewi, Sanggar Galuh, dan Sanggar Emil Mirza. Harga yang ditawarkan cocok di budget, cuma setelah gue check-check lagi, Paket Pernikahan Naurah engga se All In yang gue mau. Ada penambahan sebesar Rp.1.500.000,- untuk pelaminan full gebyok putih, dan Rp.2.500.000,- untuk Organ tunggal (Kecuali untuk paket 800 ke atas, Organ tunggal Included) dan itu belum termasuk cucuk lampah... jadinya malah out of Budget hahaha (Sedih, padahal udah sukak pake banget sama makanannya). Ya sudah, mari kita melanjutkan pencaharian (CP A Robi: 081389700573/ Mba Novi: 085710633268).

Rizal's Catering Servise (testfood di Masjid Ni'matul Ittikad Pondok Pinang)
Diantara brosur-brosur yang gue dapet pas depe gedung kemaren, salah satunya nyempil brosur Rizal's yang tampak lain dari yang lain karena berani menaruh harganya langsung di brosur yang memang muraaaahhh banget! Bayangkan, untuk 800 Porsi saja cuma Rp.42.900.000 per Februari 2016, sangat menggiurkan bukan? Paket Pernikahannya belum All In, tapi hebatnya Rizal's menyediakan semua pernak-pernik tambahan yang diperlukan seperti Cucuk Lampah, Organ Tunggal, dan lain-lain yang belum masuk dalam paket pernikahannya. Penawarannya pun menggiurkan. Tinggal testfood ajah nih, kalau okey, i'll make a DEAL! Dan hari testfood pun tiba, untuk dekor standar (tahu diri gue, harga murah ga usah ngayal tinggi-tinggi, namun pas coba makanannya... kurang banget menurut gue. Nilainya 6! Tapi itu mungkin selera masing-masing sih ya, jadi kalau memang tertarik, you'd better do the testfood by yourself :) (CP Yeni: 089669505848).

Anggraela Catering And W.O. (testfood di Anjungan Jawa Tengah)
Mulai stress karena belum menemukan Catering yang sesuai di hati dan juga kantong, gue pun kembali melanjutkan pencaharian melalui blog walking yang somehow membawa gue ke situs wordpressnya anggraela (link cari ajah di google ketik anggraela). Seperti Rizal's, Anggraela cukup berani dengan menyantumkan harga pada brosurnya. Dan kerennya lagi, harga yang tertera sudah termasuk gedung. Ada dua jenis Brosur, Paket Mewah Kuning dan Ungu. Untuk harga sewa gedung 1-5 juta, harga yang digunakan pada brosur kuning, sedangkan untuk harga sewa gedung 6-10 juta menggunakan harga pada brosur warna ungu. Untuk sewa gedung lebih dari itu, pakai brosur warna ungu ditambah selisih harga gedung dengan yang sedianya dibayarkan oleh Anggraela. Selain itu Anggraela juga memiliki Paket Ekslusif yang bisa dilihat langsung di webnya. Uniknya anggraela, kalau kamu depe, namun ternyata tidak jadi menggunakan jasanya, depe akan 100% dikembalikan. dan minimal depe hanya Rp.1.000.000,-. Untuk dekor, kalau kamu mau ambil paket mewah, dekor yang diberikan standar, namun bisa diupgrade dengan penambahan 2-6 juta tergantung pelaminan yang diminta. Sedangkan untuk rias dan busana, Anggraela punya butik sendiri, cuma gue kurang suka karena koleksinya belum terlalu banyak dan periasnya bersifat freelance alias bukan perias tetap (ga masalah sih, yang penting hasil riasannya bagus). Selain rias dan busana sendiri, anggraela juga punya rekanan rias yaitu Sanggar Rizqi Kusumo yang menurut aku lumayan oke karena baju-bajunya banyak dan periasnya terlihat profesional. Tertarik? Banget! Tapi testfood dulu yah :) 

Disuatu Sabtu pagi nan cerah, gue, nyokap, dan adik gue pergi ke Anjungan Jawa Tengah untuk testfood. Dekorasinya lumayan, karena semi outdoor, ngebantu banget memperindah penampakan dekorasi anggraela ini. Hasil makanan, well... di bilang enak engga, engga enak juga engga... tapi rasanya masih layak untuk menyuguhi para tamu. Sebagian gubukan makanannya dingin, seperti dimsum dan bakso malang, dan soupnya rada hambar, tapi isinya soup banyak, seperti bakso dan sosis. Kurang lebih nilainya 7. Sayangnya ada satu lagi hal yang bikin gue kurang sreg, bahwa Anggraela bukan rekanan Selapa Polri, dan hanya memberikan charge max. 10%. Padahal di Selapa Polri, rekanan atau non-rekanan, tetap dikenakan charge 15%, itu artinya gue masih kena biaya charge 5%. Walau masih kurang sreg, demi keamanan tanggal yang gue incer, gue pun depe Anggraela sebesar Rp.1.000.000,- dengan harapan akan segera menemukan catering yang bikin gue langsung sreg. 
 
Alisha Anjani Catering and W.O. (testfood di Gedung LAN)
Gue nemu W.O. nya Tante Uti ini (Owner Alisha Anjani) dari hasil blog walking juga. Reviewnya juga engga terlalu banyak, namun entah kenapa, kemisteriusannya justru bikin gue penasaran. Pas gue telepon si Tante ga mau ngasih tahu harga terlebih dahulu, beliau maunya gue lihat dulu performa beliau secara langsung, dan beliau menyatakan soal budget bisa menyesuaikan. Jadilah gue ditemani tardut berangkat ke LAN buat melihat performa si Tante cantik satu ini. Pas dateng, acara belum dimulai, jadi gue bisa melihat dekorasi Alisha Anjani dengan leluasa. Menurut gue, dekorasi Alisha Anjani cukup cantik walau tidak se-wuah catering kelas atas. Dan gue pun mencari si tante diantara banyak orang, alhamdulillah ketemu dengan mudah. Tante Uti langsung turun ke event mengatur semuanya sendiri. Termasuk jemput pengantin dan lain sebagainya. Setelah tidak terlalu sibuk, Tante pun siap buat gue brondong dengan pertanyaan... yang nomor satu tentunya, berapa tan harganya? Tetap saja loh beliau ga mau jawab, gue disuruh makan dulu, nyobain semuanya yang ada disitu, maka gue dan tardut pun mematuhi titahnya. Menurut gue makanan Alisha Anjani ini diluar ekspektasi gue, gue kira bakalan sekelas Anggraela, ternyata, nyam-nyam sekali. Zuppa Soupnya enak dan ada isinya, bukan sekedar soup kental saja dan rasa soupnya pun enak. Gue merasa teramat sangat sreg, kalau kata lagu, akhirnya ku menemukanmu, lah! Untuk rias dan busana, kalau dari hasil blog walking, Alisha Anjani ini sepertinya sangat rekomended sekali. Menurut gue pun demikian melihat pengantinnya tampak anggun namun tidak terlalu menor, Love it! Tapi berhubung si Tante belum nyebutin harga, guepun deg-degan, takut terulang lagi seperti waktu testfood di Naurah, udah sreg... eh harganya engga T.T

Setelah makan, kami menemui tante Uti lagi, beliau membawa kami ke ruang rias yang sudah kosong saat itu. Disanalah si tante menjabarkan tentang jasa cateringnya dan juga HARGANYA! Finnaly... Tante bilang per bulan Februari harganya naik 7 juta, dan gue datang testfood bulan Maret, melihat muka gue pucat, si Tante bilang, tenang... sama kamu masih tante berlakukan harga lama... Alhamdulillah... 

Puas ngobrol-ngobrol, kami pun pamit, dan gue berjanji akan menyambangi sanggar Alisha Anjani segera. Dan dua hari setelahnya, jam makan siang, gue pun ngabur dari kantor demi melihat sanggar Tante Uti. Jadi Alisha Anjani ini sebenarnya nama anak perempuannya Tante Uti, lho... dan keuntungan kalau lo pakai paket pernikahan dari Alisha Anjani, Tante Uti akan memberikan semua yang terbaik. Lo bisa pilih semua kostum yang ada di sana tanpa dikenakan charge lagi, dan juga memilih dekorasi yang paling lo sukai dan segala pernak-perniknya karena yang punya dekorasi adalah suami tante Uti sendiri, periasnya juga boleh pilih-pilih, dan gue direkomendasikan perias yang terbaik menurut Tante Uti. Kalau cuma ambil paket rias, atau menggunakan catering lain, ga semua baju di sanggar boleh di pakai, hanya beberapa yang sudah ditentukan oleh si Tante. 
Calon Baju Manten aku

Calon Baju Manten Kang mas

Alhamdulillah gue sreg banget, Kang mas pun okey, gue depe 10% dari total harga jasa Tante Uti yang akan gue pakai :) Bismillah... CP Tante Uti: 081519405059/0817837757)



Brosur Alisha Anjani
 Updated: Tanggal 3 April 2016 kemaren gue lihat eventnya Alisha Anjani di Gedung Bea Cukai, dan ini Foto Dekorasinya, gue suka banget, semoga pas gue nanti, dekornya bisa sebagus... atau lebih bagus dari ini :)

Dekorasi Alisha Anjani di Gedung Bea Cukai, 3 April 2016
That's All review dari gue, doakan lancar yah hingga hari Pernikahan... Aamiinnn :) 

Hai, berhubung acara resepsi aku sudah terlaksana, aku membuat Review Alisha Anjani Wedding OrganizerCheck it out yaaa :)

The Sweetest B'day Gift of My Life: A Wedding Ring

(Mengetik dengan muka sumringah)

Gue dan Kang mas udah setahun ini LDR-an, doi mendapat beasiswa sekolah di luar kota yaitu Solo, Jawa Tengah. So, bagi yang pernah menjalani LDR pasti tahu rasanya... KANGEN pake BANGET!

Yup, seperti pasangan LDR lainnya, tentu kita berusaha sedewasa mungkin dalam bersikap, biar ga ada ambeg-ambegan, marah-marahan, tangis-tangisan, atau hal lain yang dapat membuat hubungan memburuk dan berakhir pada hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah, kita berdua cukup dewasa dalam menjaga komitmen. Dan setahunpun berlalu dengan sempurna, kami berdua makin saling sayang dan merindukan (walau masih ada satu tahun lagi to go T.T).

Adalah hal yang sulit untuk bertemu karena berbagai hal dan kondisi. Setahun sebelumnya, kami setiap hari selalu bertemu, makan siang berdua, dan di akhir pekan selalu jalan-jalan berdua. Namun ketika doi harus meninggalkan ibukota... selama setahun kami hanya bisa bertemu sekali, ketika dia libur semester.

Kang mas kemudian berjanji akan datang ke kotaku di hari lahirku yang ke-28. Aku pun merasa begitu berbahagia mendengarnya. Ada yang keramat di bulan lahirku beberapa tahun ini. Dua tahun lalu, tiga hari setelah ulang tahunku yang ke-26, Kang mas mengutarakan isi hatinya dan memintaku menjadi kekasihnya... (Aih, manisnya). Lalu, Maret setahun yang lalu, Kang mas berangkat ke Solo (Ini sedih T.T) dan Maret tahun ini, di ulang tahunku yang ke-28, ia menyatakan akan datang menemuiku (baru denger rencananya ajah, aku bahagiaaaaa... hoho)

Tepat tiga hari sebelum hari kedatangannya, tiba-tiba Kang mas telepon, bilang kalau sebenarnya beberapa minggu yang lalu kelasnya ada perubahan jadwal, yaitu hari sabtu, sehari sebelum hari ulang tahunku, dimana doi seharusnya sudah tiba di Jakarta (Jumat malam berangkat dengan kereta), ternyata doi ada kelas penting dimana kalau ditinggalkan akan berdampak buruk bagi nilainya, yang mana sangat penting karena statusnya yang merupakan penerima beasiswa. Namun doi bilang masih memperjuangkan untuk melobby dosennya agar bersedia mengalihkan kuliahnya di hari jumat, sehingga tidak perlu lagi kuliah di hari sabtu.

Walau Kang mas bilang masih memperjuangkan jadwalnya, tapi gue sudah tak kuat membayangkan seandainya Kang mas benar-benar berhalangan, maka gue pun nangis, hiks. Kang mas bilang seandainya benar-benar ga bisa dateng di hari ulang tahunku, doi akan tetap datang di sabtu minggu berikutnya. Namun tetap aja gue sedih, karena itu sudah bukan hari ulang tahun gue lagi.

Hari kamis, sehari sebelum keberangkatan (Jumat malam), Kang mas ke stasiun untuk menukar kode booking pemesanan tiket kereta dengan tiket asli. Aku bertanya, "Bagaimana dengan kuliahmu?", dia balik bertanya, "Aku menimbang perasaanmu, kalau kamu mau aku tetap berangkat, maka aku akan tetap berangkat, dan membolos seandainnya dosenku tidak dapat di lobby, Bagaimana menurutmu?"

"Berarti, kamu absent dong?"
"Iya, mau bagaimana lagi? kecuali dosenku mau dilobby, atau kalau gagal, kamu mengizinkan aku untuk menunda keberangkatan seminggu lagi?"

Ah, Kang masku... suaranya yang lembut bikin gue makin galau, akhirnya dengan tidak rela gue bilang, "Kalau sampai dosenmu ndak mau di lobby, kamu tetap kuliah saja, ditunda seminggu tak apa" dan kemudian nangis dipojokkan.

Hari Jumat pun datang, doi hanya menghubungiku sekali di pagi hari, dan hingga sholat Jumat berakhir, Kang mas tidak memberi kabar apapun. Hufh, bikin deg-degan saja doi T.T

Ba'da ashar, tiba-tiba terdengar bunyi sms masuk. Entah mengapa jantung gue tiba-tiba super deg-degan seperti mau menerima hasil kelulusan Ujian Akhir Nasional. Dan dengan cemas gue pun buka sms yang ternyata emang dari Kang mas, tulisannya, "Aku jadi ke Jakarta nanti malam nggih".

Rasanya seperti ada ribuan kembang api di langit, senaaaaaang pake banget. Itu artinya doi bisa ke Jakarta tanpa harus membolos, itu artinya dosennya setuju untuk di lobby, terima kasih Ya Allah :)

Sabtu pagi, dengan semangat 45 gue menjemput kangmas di Masjid Istiqlal (Doi numpang mandi di sini). Aih Kang masku gantengnyaaaaa.... Dengan senyum lembut yang begitu khas, doi menyambutku. Aku pun langsung mengutarakan jadwal yang akan kami lakukan selama doi di Jakarta. Kita akan jalan-jalan ke sini, main ke situ, jalan ke sono de es te. Mendengar rencanaku doi mengernyit. Oops, sepertinya doi ga setuju nih, sepertinya doi sudah punya rencana sendiri selama di Jakarta, "Kenapakah sayang? Kamu ndak setuju?"

Lalu dengan gaya bicaranya yang lembut itu doi menjelaskan padaku rencananya selama di Jakarta, "Aku ke Jakarta itu sebenarnya bukan hanya untuk bertemu kamu..."

Aku hampir protes mendengarnya, namun doi melanjutkan, "tapi juga bertemu orangtuamu... aku mau minta izin untuk melamarmu kepada mereka berdua, dan... dari pada jalan-jalan yang melelahkan, lebih baik kita ke Blok M, ya... beli cincin kawin buat kamu!"

Lemes... selemes-lemesnya... mau pingsan, tapi emang ada orang pingsan karena saking bahagianya??? haha... gue cuma bisa diam seribu bahasa, dan mengangguk pelan. Speechless...
 
Kami berdua pun mencari tempat untuk Kang mas bisa memakan bekal sarapan pagi yang kubuat untuknya. Dan siangnya, kami pergi ke Gajah Mada Plaza untuk makan siang dan nonton Kung Fu Panda 3 yang baru tayang. Setelah sholat Dzuhur, kami pun ke Blok M Square untuk mencari toko perhiasan yang direkomendasikan sahabatku Nenek Sunenek alias Yulia, orang pegadaian yang memahami seluk beluk dunia toko emas yang langsung gue tanya-tanyai informasinya via chat begitu Kang mas bilang mau membelikan aku cincin.

Nama tokonya Sachi, pemiliknya Uda Heldy di lantai 1 Blok M Square, Toko aslinya di daerah Melawai, Uda Heldy ini langganan lelangnya nenek... Berkat nenek, kami dapat harga yang okey dari Uda Heldy, terima kasih neneeeek... Sabtu sore itu, kami sibuk memilih sepasang cincin kawin nan cantik untuk kami pakai di hari pernikahan kami nanti. Well, I'm going to cry now... i am the happiest human being in the world!

Setelah menemukan cincin cantik yang diinginkan, Kang mas pun membayarnya secara Lunas sehingga ketika jadi nanti, aku hanya perlu menjemputnya. Kata mba yang menjaga toko, perlu waktu satu minggu untuk pembuatannya. Ga sabar rasanyaaaaa.... Oiya, karena kami tahu laki-laki dalam Islam tidak diperbolehkan memakai emas, untuk Kang mas, kami pilih cincin perak yang di chrome saja :)

Ini dia cincinnya... So Lovely, Right? Diah & Marsal :)


Dari Blok M, kami menuju guest house yang sudah gue booking atas nama Kang mas, doi nge-drop barang-barangnya di sana, dan mengantarku pulang ke rumah. 

Kang mas hanya mengantarku pulang dan menyalami orangtuaku. Doi berkata pada mereka, bahwa nanti malam Ba'da Magrib, ia akan datang lagi. Ia perlu membersihkan diri dulu di guest house.

Malamnya Kang mas datang ke rumahku dengan badan yang lebih segar dan muka yang makin ganteng. Doi pun memulai pembicaraan dengan kedua orangtuaku, dan mengutarakan maksud kedatangannya. Sangat syahdu malam itu, begitu tenang, karena baik Kang mas dan kedua orangtuaku tampak begitu resmi dan serius. Aku hanya bisa tersenyum alias nyengir tiada henti. 

Malam itu ditutup dengan makan malam bersama, Kang mas pamit pulang ke guest house sekitar Pukul 21.00, dan berjanji akan menjemputku esok hari sekitar Pukul 10.00. We're going to celebrate my Birth Day together. Walau kadonya sudah di bayar lunas sehari sebelumnya, hehehe

Terima kasih Kang masku kesayangan, You are The Sweetest Gift i have ever received from GOD :)



Thursday, March 10, 2016

My Wedding Preparation Part 1: Hunting Gedung Pernikahan 2016


Udah lama ajah gue ga ngeblog... (matabelo)
Maklum, tiba-tiba karier bakcpacker ala-ala gue udah ga sejaya dahulu semenjak pindah kerjaan, travel pun palingan ke tempat yang deket-deket ajah macam Bandung dan Garut, hehe.

Anyway... this is it! My moment has already begun :)
Kang Mas eike akhirnya memutuskan waktu yang tepat untuk kami mengakhiri hubungan kami yang berstatus pacaran, dan memulai hubungan dengan status baru, yaitu... Suami Istri! I can't stop GRINNING :)))))) Begitu mendengar pernyataan si Kang Mas, langsung ajah gitu loh jari jemari gue lincah mainin hape, browsing sana browsing sini, nyari ini nyari itu! Pokoknya excited pake banget!

Pertama-tama gue sama Kang Mas menentukan budget terlebih dahulu yang pastinya sangat amat ketat! Budget yang kami tentukan adalah untuk sebuah resepsi pernikahan sederhana, alias sesuai isi kantong a.k.a pas-pasan! Tapi tetep yah, gue maunya berkesannn... jadi disinilah perjalanan gue dimulai, let's make my own wedding memorable for everyone :)

Mungkin ada yang pesimis, mau berkesan kok gak mau keluar budget lebih?! tapi gue engga, ga ada kata pesimis di kamus gue. Lagian gue kan pengennya itu "pernikahan yang berkesan", bukan "pernikahan yang mewah", dan menurut gue, berkesan engga harus mewah! Even if it needs more effort to make it happens, i'll do it! alias butuh kesabaran lebih buat mencari vendor-vendor yang berkualitas dengan harga yang bersahabat. Vendor-vendor yang berorientasi bukan sekedar memuaskan pelanggan demi mengincar keuntungan semata, tapi juga bekerja dengan hati semaksimal mungkin mewujudkan impian setiap calon pengantin, berapapun budgetnya! Namun, bukan berarti berapapun budgetnya, terus itu vendor kudu ngasih jasanya sama rata ya, memangnya subsidi silang. Maksud gue, gue memerlukan vendor yang tidak meremehkan impian pelanggannya tentang pesta pernikahan walau budget sang pelanggan pas-pasan, namun mampu memberikan solusi dan juga jalan keluar sehingga tercapai kerja sama di antara kita #tsahhh... Tapi untuk bisa menemukan vendor yang begitu, perlu kesabaran ekstra dalam hal menyelidiki porto polio, review dan track record setiap vendor.

Setelah elo menentukan budget, menentukan venue adalah hal musti wajib dilakukan Nomor 2! Bukan nentuin tanggal yah, tapi nentuin gedung! Soalnya, apalah artinya menentukan tanggal kalau gedung inceran lo fullbooked ditanggal itu, hahaha (ketawa miris karena sudah mengalami). Karena tempat tinggal gue di bilangan Jakarta Selatan, gue pun mengincar beberapa venue pernikahan di sekitar Jakarta Selatan. Ga banyak yang gue samperin secara itu adalah hal yang sangat melelahkan sodara-sodara. Melintasi Jakarta Selatan dari sudut ke sudut. Hufh!

Masjid Pondok Indah
Venue pertama adalah Masjid Pondok Indah. Saat gue ke sana waktu itu, ternyata ada dua acara resepsi yang berbeda. Yang satu dilakukan di dalam Aula yang berada tepat di bawah Masjid, dan yang satu lagi di halaman masjid yang luar dengan menggunakan tenda pernikahan (mungkin yang disewakan halamannya saja). Untu pernikahan di Aula, hawanya itu adem banget karena full AC dan jumlah ACnya memang lebih banyak dari gedung-gedung lain yang pernah gue samperin. Walaupun orang-orang udah berjubel, hawanya tetap dingin dan sejuk. Harga sewanya pun ga terlalu sadis untuk yang memiliki budget pas-pasan seperti gue Rp. 10.000.000,- saja ditambah akad Rp.500.000,- di masjidnya. Namun minusnya Aula masjid ialah langit-langitnya yang rendah banget. Akan sayang banget kalau mau dipake buat pernikahan adat Sumatera Barat, atap rumah Bagunjuang Tujuahnya jadi ga bisa digunakan. Untuk resepsi yang di halaman, gue ga tanya-tanya karena kurang berminat, kalau pake tenda lagi, apa artinya gue nyewa venue? iya ngga? haha.

Masjid Jami' Al-ittihad
Lanjut, kita ke Masjid Jami' Al-ittihad di Pondok Pinang. Disini adem sekali hawanya. Ademnya alami adem masjid, karena venue ini tidak memiliki AC. Harga sewanya sekitar Rp. 3.500.000,- (gue bilang sekitar karena gue tahunya dari pihak katering yang gue survey, bukan dari pengurusnya yang pada saat itu sedang libur). Namun gue kurang suka karena Aulanya tidak begitu luas untuk 800 orang. So let's move to the next venue.

Balai Sespimma, Selapa Polri
Selanjutnya adalah Balai Sespimma, Selapa Polri di perempatan Pondok Pinang-Ciputat-Pasar Jumat-Lebak Bulus, hahaha... Venue ini mampu menampung maksimal 1000 orang. Bentuk balainya memanjang, bukan melebar. Langit-langitnya cukup tinggi dan ACnya meski tidak sedingin Masjid Pondok Indah tapi lumayan adem. Secara lokasi, menurut gue memang bakalan merempongkan mereka-meraka yang tinggalnya di daerah utara, dan bekasi, namun tho itu dekat dengan tol dan terminal, jadi walau jauh, aksesnya inshaAllah mudah. Parkirannya lumayan luas secara Balai Sespimma itu berada di kompleks Polri yang lengkap, ada asrama Polwannya, Rumah Sakitnya, Balainya, etc. Jadi soal parkiran aman. Untuk harga sewa, sedikit lebih murah dari Masjid Pondok Indah, yaitu Rp. 9.000.000,- dan untuk akad Rp. 350.000,- Satu lagi positifnya Balai Sespimma adalah untuk charge catering, rekanan atau non-rekanan sama saja, sama-sama 15% dari seluruh harga makanan buffe dan gubukan. (Buat gue yang berniat nyari vendor berkualitas dengan budget yang solutive, charge yang fix gini cukup menenangkan hati wkwk). Contact Person: Bpk Taufik: 081225903589

Balai Makarti Muktitama
Gedung sejuta umat! Kenapa? Karena dengan hanya Rp. 5.000.000,- dan tambahan biaya akad Rp. 500.000,- lo bisa melangsungkan pernikahan di venue yang berkesan otentik, tradisional, dan elegan dan berada di tengah kota pula! Gedungnya njowo banget, so, bagi kamu-kamu yang mengidam-idamkan pernikahan adat Jawa dengan kesan otentik yang cukup kuat, lokasi bagus, dan harganya pun sangat pas di hati dan di kantong... Balai Makarti solusinya :D Berlokasi di Jalan TMP Kalibata, depan-depanan dengan apartemen kalibata city yang mempermudah akses keluarga dari luar Jakarta menginap untuk menghadiri resepsi kamu, bentuk gedung yang berupa pendopo megah berhias chandelier super besar di tengah ruangan yang menambah kesan otentiknya, kapasitas gedung yang mencapai 1000 orang.... siapa yang ga mau??? Namun sayang, untuk mendapatkan venue ini, kamu harus booking gedung ini minimal setahun sebelumnya , karena gue waktu itu booking padahal masih 11 bulan (Februari 2016) sebelum D-day, namun Balai Makarti had already booked di sepanjang tahun 2016. Demam gak luh! Phone: 021-7993376 (weekdays only)

Hiks, gagal dapet venue nan ajib, gue pun tetap tidak menyerah.

Selanjutnya gue ditemenin nyokap mencoba kembali melintasi Jakarta Selatan demi mendapat Venue yang sesuai dengan keinginan.

Aula Buya Hamka, Masjid Al-Azhar Jakarta Selatan
Aula Buya Hamka memiliki langit-langit yang tidak serendah Masjid Pondok Indah, namun aulanya tidak seluas Selapa Polri. Entah mengapa gue kurang sreg ketika melihat penampakan Aula tersebut. Saat itu pengurus masjid sedang libur, hanya ada seorang bapak tua yang sedang menyusun bangku bekas acara pernikahan semalam, menurut beliau, harga sewa aula ini sekitar Rp.10.000.000,- tidak termasuk akad. Well, since i didn't heart it at first, so... let's move to the next venue.

Tifa Kemala Komdak
Alias Gedung Pertemuan Polri. Awalnya gue nyamperin venue ini karena catering incaran gue merekomendasikannya walau sebenarnya catering tersebut bukan rekanan gedung Tifa (Aneh, kan? ada sedikit miss-com di mana catering inceran gue menyangka gue bisa dapet potongan harga karena punya saudara polisi padahal engga punya, haha). Eniwei, penampakan depan gedungnya memang sepertinya sudah cukup berumur, namun ternyata aulanya cukup mumpuni dan mampu menampung hingga 800 orang. Lokasinya teramat sangat strategis, berada di perbatasan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Sudirman, lo bisa akses gedungnya melalui SCBD maupun dari arah kuningan. Untuk lokasi, Tifa juaranya. Harga sewanya juga cukup murah di banding beberapa yang udah gue sebutin sebelumnya, Rp. 8.000.000,- untuk aula acara, dan Rp. 500.000,- untuk akad nikahnya. Ada sedikit minus, aula acara ternyata di lantai 2, beberapa capeng mempertimbangkan para sepuh mereka, namun menurut Kang Mas, itu tidak masalah. Namun ada hal yang cukup fatal yang membuat gue urung menyewa gedung ini, ternyata untuk catering non rekanan dikenai charge 20%. Oh, NO! Contact Person: Ibu Nila 0818730849

Langen Palikrama Pegadaian
Gue dulu sering ke sini buat workshop, dan beberapa kali menghadiri pernikahan. Aulanya megah, luas pake banget muat 1200 orang, gue suka. Harga sewanya Rp. 10.000.000,- dan untuk akad nambah Rp. 1.000.000,- alasan gue ga ambil gedung ini cuma... Jauh, bukan di bilangan Jakarta Selatan lagi, tapi di Jakarta Pusat. Contact Person: Shanty 081382928923.

Masih ada beberapa lagi gedung yang eikeh samperin selama moment venue hunting ini, tapi kebanyakan dari mereka gue lakukan sembari kondangan beneran, jadi info yang gue dapet kurang lengkap. So that's my review for venue. Next, I'll write about other things :)

Saturday, April 26, 2014

Review Packerbe: Sudut Lain Kota Yogyakarta



2013 is so yesterday, tapi tapi... it was a year to remember banget dah pokoknya! Well, bagi gue setiap tahun itu spesial, punya memori masing-masing yang ga akan terulang di tahun-tahun berikutnya, orang-orangnya... pengalamannya... momentnya... every year is so authentic!!!

dan 2014 pun datang, hellooowwww... sekarang udah bulan April dan gue masih mempermasalahkan tahun baru hahaha... namanya juga preambule, jadikan kudu diceritain awal mula sebab musabab sebuah cerita bisa terjadi dong, ya kan??? dan perjalanan kali ini emang ga lepas dari empat angka itu, 2014!

Kenapa ga lepas dari 2014??? Karena hai karena, seperti biasa, temen-temen gue yang tergabung dari 5 orang cewek manis packerbelle ga rela ngelihat kalender baru tahun 2014 mulus dari coret-coretan rencana perjalanan... semua tanggal merah, harpitnas dan tanggal yang diperkirakan bakalan merah (Red: tanggal-tanggal yang diperkirakan di pake buat nyoblos, Gan!) sepanjang tahun 2014 langsung jadi inceran. Semua dibunderin, dicocokin, di godok, lalu ditiriskan, lha?

Perang rebutan cuti pun terjadi, semua berebut harpitnas buat bisa cuti, yang menang berhak mendapatkan kebahagiaan libur lebih panjang dari yang cuma dapet liburan tanggal merah, dan battle ini tidak mudah kawan, sudah banyak korbannya... haha

Dan lagi, you don't even know what will happen in the next one second of your life! Ciyusss!!! Siapa yang nyangka kalo disuatu pagi yang cerah di tanggal 8 Januari 2014 gue menyodorkan surat pengunduran diri dari Perusahaan yang udah dengan baik hatinya membesarkan gue, membentuk gue, memberi gue banyak pengalaman tentang hidup selama enam tahun terakhir??? Gue sendiri sampai sekarang masih engga nyangka kok, Oui... C'est la Vie :)

Dan meskipun sekarang gue udah engga sepayung lagi dengan semua anak Packerbe, dan walaupun hubungan gue udah berhenti sama perusahaan gue, tapi yang namanya 'Friendship never ends'. These guys are awesome as always, as crazy as usual, as warm as summer time, and as kind as angels :)

Dengan semangat menyongsong tahun baru, Nenek dan Siska dengan sigap melingkari dua tanggal merah di bulan Maret yang bersahaja namun membahagiakan :)

Mereka langsung mengeksplorasi mbah google dan menyusun Iten yang seperti biasa, as sadist as usual!!! Ngayogyakartahadiningrat pun jadi tujuan kami. Yogya??? Lagi??? Eittsss... You know what??? Kalo Jakarta yang kecilnya begini, yang seumur hidup gue tinggal di sini ajah masih banyak tempat-tempat yang belum pernah gue datengin, apalagi Yogyakarta??? 

Tujuan kami  kali ini adalah daerah Gunung Kidul, tahu kan dimana? ga tau? Buka Google Maps hahaha

Nenek langsung mengincar transportasi yang paling nyaman namun juga paling murah yang bisa didapatkan. Doi ngecheck tiap saat semua jenis transportasi mulai dari darat, air dan udara. Pengennya murah tapi nyaman, begitulah kami! Akhirnya Nenek berhasil mendapatkan tiket Kereta Eksekutif Taksaka dengan harga PP Rp. 600.000,- Kami manja maunya eksekutif??? Nope... don't get us wrong, kami juga sering kok naik kereta Bisnis, yang ga pernah kereta Ekonomi doang hahaha! tapi kan ga ada salahnya sesekali menikmati yang agak wah sedikit, dan dalam kasus ini, gue ga tahu kalau gue bakal resign dan bakal jadi seseorang yang can't afford even the cheapest one! Anggaplah kemewahan terakhir yang bisa gue rasakan sebelum kejayaan itu kembali, haha.

Okay, Januari dan Februari pun berlalu dengan indahnya dalam keheningan, Maret pun tiba dengan kebahagian yang menjanjikan, diselingi tawa, deg-degan, kado-kado tak terlupakan dan... kado terindah dari seseorang :) Implisit banget yah bahasa gue, intinya itu... gue BAHAGIA di bulan MARET dan semoga terus selamanya... Amien.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, 29 Maret 2014, kami janjian di Stasiun Gambir dan akan berangkat dengan Kereta Taksaka menuju stasiun Tugu jam sembilan malam (yang ngaret satu jam jadi baru jalan jam sepuluh malam, biasa... Endonesah!) 

Menunggu Kereta di Stasiun Gambir
Tidak semua anggota Packerbe dapat ikut dalam perjalan kami kali ini, dari total 13 orang, hanya enam orang yang ikut, di tambah istrinya Cumink yang baru ajah naik ke pelaminan Maret lalu di Bandung (Selamat yah kawaaannn... doakan kami cepat menyusul jejakmu!). So, ini juga semacam honeymoon dadakan githu buat Cumink dan Istri tercintanya, Nyonya Cumink alias Wide.

Dilepas cowok gue (Makasih ya Molen Holland Bakery ama cemilannya... nolong banget pas kita kelaperan <3) kami pun berlepas menuju Yogya. 

Stasiun Tugu, 29 Maret 2014.

Seiring dengan Matahari yang mulai merayap naik, kereta perlahan-lahan berhenti, Terakhir berada di Stasiun ini, empat tahun yang lalu, kala kami masih polos, dan waktu lamban berlalu (Sekarang kita bagai di kejar waktu... tahu-tahu, udah umur segini, belum nikah-nikah juga, walau hobby tetap sama... alan-alan with plens).

Dengan Ransel di punggung, kami buru-buru menuju toilet mushola, cuci muka, sikat gigi, wudhu.... dan sholat subuh walau kesiangan (Yang penting kan niatnya, hehe). Driver sewaan yang kami sewa bersama sebuah mobil Innova pun telah siap menyambut kami. Bersama beliau, kami melintasi kota Yogya mencari seonggok sarapan untuk menghentikan teriakan perut kami yang kerucukan.

Memang yah Yogya, sesuai dengan yang di ungkapkan Katon Bagaskara, "musisi jalanan mulai beraksi...", secara baru duduk ajah di tukang bakso, para musisi jalanan itu langsung beraksi, untung mereka agak berkelas, suaranya bagus dan lagunya walau lawas namun berkesan, membuat Siska pagi-pagi udah melted. Haha!

Selesai Makan kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju Gunung Kidul. Tujuan kami yang pertama adalah Goa Pindul dan goa-goa lain di sekitarnya including sungai Oya nan jernih airnya.

Menjelang siang kami tiba di daerah Goa Pindul, saran gue kalo mau mainan larung-larungan di Goa Pindul, jangan cari tanggal merah kayak kita-kita ini. Rameeeeee.... dan panaaasssss!!!! Antrianya beuh, ga nahaaaan, ditambah panas pula, hitam deh gue! Dan walau satu botol  Sun Block di lumurin ke muka, tetap ajah muka gue hitam sehitam-hitamnya muka (Nangis di pojokan Goa!).

Pake Sunblock biar ga item, walau hasilnya tetep item!

Ready for the Show!!!
Seorang Guide dari Agen Karya Wisata menawarkan paket Goa Pindul, Sungai Oya dan Goa Sriti seharga Rp. 110.000/orang, dan dikarenakan kami bertujuh dapat discount jadi hanya seratus ribu perorang. Kami pun disuruh memakai perlengkapan ekspedisi goa seperti pelampung dan sepatu karet. Kami mengantri sebentar untuk menunggu pick-up jatah kami menjemput. Untuk menghindari antrian di Goa Pindul yang membludak, Kami yang dipimpin seorang guide bernama Mas Ega memutuskan untuk bermain larung-larungan di Sungai Oya terlebih dahulu.




Menuju Sungai Oya
Sungai Oya adalah Sungai dengan aliran air yang sedang (mungkin karena musim kemarau dan udah lama ga turun hujan) dengan warna air yang hijau cantik berpendar memantulkan sinar matahari nan panas membakar. Di kanan-kiri sungai merupakan topografi alami sungai yang masih liar dan perawan berupa tebing-tebing, ceruk, hutan lebat, air terjun, pepohonan tinggi, dinding-dinding tanah nan tinggi, pokoknya indaaaaaaaaaaahhhh banget. Mengingatkan gue akan green canyon dan waterboom! Dari Green Canyon Sungai Oya lebih panjang namun tebingnya lebih rendah, airnya sama hijau dan jernihnya. Dari Water Boom, Sungai Oya seribu kali lebih keren dan menantang, namun gelombang air dan efek Ban besarnya mengingatkan kita akan jalur bergelombang di Water Boom. Intinya nyokap lo ga bakalan nyangka deh kalo anak gadisnya berani-beraninya melarungkan dirinya di sungai liar hanya bermodalkan Ban doang! Haha...

Melarungkan diri di Sungai Oya!
The Super Excited Girl, Nenek!
Permisi, Penganten baru mau lewat...
Inilah dia Mr. & Mrs. Cumink!
Kalo ini... Ibu-ibu Eselon 2 yang mau lewat, hehe...
Disini kita membakar diri habis-habisan! Tak perlu segala Sun Block itu. Hitam tetaplah hitam... hiks!

Di Sungai Oya, bagi yang merasa Macho, bisa naik ke satu tebing nan tinggi, dari sana lompat ke bawah, menuju Sungai Oya... seru banget! Gue dan Nenek pengen nyoba, cumaaaa.... atut! Okeh, Di, lupakan... rumah lo jauh, di Jakarta... jangan cari gara-gara!

Akhirnya hanya Deky-lah yang berani mencoba! Sayang seribu sayang, Mas Ega gagal mengabadikan moment Deky lompat karena kalah cepat dengan Gaya Gravitasi bumi. Sabar ya Dek :)

Hanyuuuuuut...
Sorry ye kalo kita keren-keren banget! haha...
Acara larung melarung pun terus berlanjut hingga kami tiba pada satu titik dimana perjalanan kami berakhir walau sungai itu masih panjang entah sampai kemana! Selanjutnya dengan mobil pick-up kami menuju goa Pindul. Dan walau kami sudah berjam-jam melarungkan diri di Sungai Oya, ternyata antrian di Goa Pindul masih teramat panjang! Terpaksalah kami membakar diri lagi di atas ban seraya mengantri di mulut Goa. Panas Bok!


Menunggu antrian di mulut Goa Pindul
Kata Mas Ega, "Mas-mas dan Mbak-mbak lain kali datangnya jangan pas liburan begini, ga dapet serunya, antri doang!". Kami serentak menjawab dalam hati, "Ya kalo ga libur mana bisa kami ke sini Maaaaassss!!!" (Ga usah nanya dari mana gue tahu kita nyahutnya serentak walau dalam hati, kelihatan banget dari mata masing-masing yang mendelik keki ke Mas Ega, Sang Guide nan setia, setia foto-fotoin setiap moment yang terjadi pada kita walau banyak yang ga fokus, haha!)

Selamat datang di Goa Pindul!
Akhirnya, kami pun menuju kegelapan. Masuk Goa maksudnya! Gelap Bro... tapi alhamdulillah akhirnya... adeeeeeeemmmmm!!!! (Seharian panas-panasan, nyiksa!). Panjang Goa Pindul hanya sekitar 350 meter, yang sebenernya hanya perlu beberapa menit saja untuk melintasinya jika tidak dalam suasana liburan begini. Goa Pindul merukapan goa yang dilintasi sungai yang mengalir dan cukup dalam, jadi hanya dengan Ban sajalah kita bisa melintasinya. Ada satu spot yang ajib banget buat foto-foto di mana topografi langit-langit goa yang berlubang membuat satu titik dibawahnya bermandikan cahaya Matahari. Indaaaah Sekali! Sayang seribu kali sayang, ada ratusan orang yang sedang mengantri panas-panasan membuat foto-foto yang jadi tujuan utama kami merupakan hal yang mustahil dilakukan. (Nangis lagi dipojokan Goa!) 

Keluar dari Goa, kami langsung naik ke darat karena kalo tidak kami akan hanyut ke air terjun kecil yang entah menuju ke mana, haha! Walau panas, badan pegal dan leher tengeng luar biasa (Ndangak mulu di atas Ban!) kami pun bergegas menuju spot selanjutnya. Spot terakhir yaitu Goa Sriti! 



Ini dia Goa Sriti!!!
 Berbeda dengan Goa Pindul yang besar dan seperti aula, Goa Sriti sangat sempit dan kecil, dan walau juga dialiri air, kita tak bisa memakai Ban! Goa ini masih sangat alami dan masih sangat disakralkan oleh penduduk setempat sehingga kita dilarang untuk berbuat aneh-aneh di dalam. Toprografinya sangat kasar dengan stalaktit yang panjang-panjang dan stalagmit yang tajam-tajam. Sempitnya goa membuat kami agak kelimpungan melintasinya, belum lagi genangan air yang cukup dalam membuat kami harus berdingin-dingin dan kesandung-sandung ria melintasi goa nan gelap. Penampakan kami pun macam tim Ekspedisi ajah, haha!

Emejing Girls dengan segala ekspresinya...
Akhirnya mulut Goa!!! Yang juga menjadi tanda berakhirnya ekspedisi Goa-goa kami hari ini. Kami kembali ke pangkalan Agen Karya Wisata, mandi, shalat, dan makan ala kadarnya di sebuah kedai Bakso. Menjelang Senja kami bergegas menuju ke Pantai-pantai di Gunung Kidul.

Kami berniat ke Pantai Indrawati dan Klakar. Namun sayang seribu kali sayang (lagi???), jalanan menuju ke sana macet parahhhhh!!!! Ribuan orang seolah memiliki tujuan yang sama, ke Pantai yang sama (Nangis lagi, kali ini ga ada Goa! Nangis di mobil ajah!). Kami pun memutuskan untuk putar balik menuju Pantai Baron yang terdekat. Menjelang Magrib kami tiba. Pantai Baron mungkin indah jika dan hanya jika... engga seramai ini! Banyak sekali pengunjungnya hingga bentuk asli pantai tak begitu terlihat!
Penampakan Pantai Baron
Narsis di Pantai Baron
Kami ga berlama-lama di Pantai Baron. Lepas Magrib kami sudah dalam perjalanan menuju ke daerah Gunung Purba. Supir membawa kami untuk makan malam di daerah yang disebut Bukit Bintang, iyah, Bukit dimana kita bisa melihat bintang-bintang bertaburan di Bumi! Romantis Abis :) Disebut Bukit Bintang, karena pada ketinggian tersebut, hamparan kota dibawah pada malam hari terlihat bagai langit nan kelam, dan lampu-lampu yang bersinar dari perumahan, gedung-gedung, lampu jalan dan kendaraan jauh di bawah sana bagai cahaya dari ribuan bintang yang berkelap-kelip nakal, It was extremely beautiful.

Pemandangan dari Bukit Bintang
Eh, ada cewek manis...
Plis deh Cumink... Wide... Bikin  mupeng ajah kerja lo berdua!!! (Iri mode ON)
Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan menuju Daerah Gunung Purba dengan Mitos hanya ada tujuh keluarga yang tinggal di sana. Yang ternyata perjalanan ini agak-agak spooky gitu karena malam yang telah larut dan desa yang sepi penduduk serta jalanan yang kanan kirinya hanya ada hutan dan kegelapan. Hiiii....

Setelah mengarungi kegelapan desa nan sepi selama kurang lebih setengah jam, akhirnya kami melihat tanda-tanda kehidupan. Our guide, Mas Sugeng, sudah menunggu di salah satu rumah penduduk yang dialihfungsikan sebagai sekretariat agen wisata Gunung Purba. Dengan motornya, dia membimbing kami menuju rumah penduduk yang merupakan homestay kami malam ini.

Homestay tersebut sangat nyaman dan bersih. Kasurnya nyaman sekali dan kamar mandi pun bersih, pokoknya TOP BGT! Harga sewa untuk tiga kamar setelah nego adalah Rp.700.000/malem, cukup murah bukan? Plus disediakan makan pagi, kudapan dan minuman hangat yang sangat nikmat untuk ukuran desa.

Nih, bagi yang butuh informasi buat homestay di Gunung Purba!!! Very Recomended lhoooo!!!
Kalo ini penampakan homestay-nya! Oke punya kan? Percayalah!
Kami pun berebut untuk bebersih badan, setelah kelar bebersih, minuman dan kudapan berupa teh manis hangat dan makanan ringan pun disuguhkan yang empunya rumah. Sebelum tepar di empuknya kasur, kami pun menikmati hidup sesaat sambil berkelakar menikmati jamuan tersebut.

Mas Sugeng yang in charge sebagai guide kami sangatlah ramah, flexible, dan orangnya pun asyik sekali. Setelah mendengar sedikit arahan dari beliau tentang kegiatan kita besok, kami pun masuk kamar masing-masing dan tertidur.

Jam dua pagi hari, sayup-sayup gue mendengar alunan surgawi yang membuat gue terjaga dan ga bisa tidur lagi. Alunan nan merdu bagai suara kodok bernyanyi itu berasal dari Si Tari yang lagi ngorok dengan damainya. Akhirnya gue cuma bisa merem-merem ayam sampai jam tiga pagi, waktu yang ditetapkan Mas Sugeng untuk kita bangun guna mengejar Sunrise. 

Setelah semua bangun dan bersiap untuk melakukan pendakian gunung purba, sebuah mobil pick-up pengangkut kambing pun datang menjemput.

Semerbak aroma kambing pun menghentakkan kami dari kantuk. Baunya membuat indera penciuman kami sempat shocked sesaat walau akhirnya terbiasa juga, haha. Siska dan Nenek menempati Hotseat di samping Pak Supir yang tentunya bau sang supir sebelas dua belas dengan bau kambing yang beliau angkut sebelumnya. Lalu kami sisanya, naik di belakang mobil pick-up dan dengan menggigil kedinginan menerjang angin malam nan dingin namun segar sekali.

Pick-up membawa kami bergijak-gijuk ria! Dengan tenaga kuda, mobil bak tersebut mendaki dengan kemiringan yang hampir 70 derajat, sementara kami penumpangnya yang di belakang terombang-ambing, berpegangan dengan segala yang ada, biar engga jatuh terpental karena kondisi mobil yang miring sekali. Mobil seringkali harus "ngeden" karena engga kuat nanjak dan bahkan hampir merosot turun. Sungguh amat sangat membuat jantung berpacu karena pilihannya merosot ke jurang, atau "ngeden" ke atas, hahaha

Pemandangannya walaupun gelap, namun masih terlihat. Gunung purba di penuhi dengan bebatuan raksasa yang masih alami, yang besarnya mungkin sebesar Stonehenge yang ada di U.K sana. Bebatuan purba yang sangat besaaaaaaaaaar sekali.

Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam mendaki dengan pick-up berkemiringan amat sangat miring, kami pun tiba di ujung jalan setapak yang sudah tidak dapat di lalui lagi dengan mobil. Kami pun memulai pendakian kami yang ternyata... sudah teramat sangat dekat, haha. Ini sih bukan mendaki namanya, secara 95% dilakukan dengan tenaga mobil :p

Hari masih teramat gelap, angin teramat kencang... langit di atas sana amat sangat hitam... dan jutaan bintang bertabur menghiasi gelapnya langit.


Deeeeuuhhh.. enaknya yang bawa pasangan!!! (Team gigit jari banget sih gue, haha)
Dari puncak, mendangak ke langit hitam bertabur bintang, lalu lihat ke bawah sana... jauuuuuh di sana... hamparan bumi nan tak kalah gelap juga bertabur jutaan bintang... lampu-lampu kota nan jauh di bawah sana seumpama sinar jutaan bintang yang berpenjar, seolah tertawa riang. Indah sekali.

Menunggu sang Raja Bintang datang, kami pun terpaku, termangu... termenung hikmat menikmati pemandangan di depan kami, walau angin malam nan dingin berhembus tak berperi.

Menungu Sunrise
Beberapa nyanyian untuk negeri pun terlantun pelan dari bibir kami, hingga lagu-lagu band terkini dan tercadas pun engga ketinggalan, kami nyanyikan dengan suara rombeng kami, haha. Suasananya sangat hening, damai dan romantis. Beruntunglah Cumink yang membawa Wide, sang istri untuk menikmati ciptaan Tuhan ini berdua, what a waste to see this beautiful scenery alone??? (Senyum kecut). Well, I was not alone... these guys were with me :)

Akhirnya sang Raja Bintang nan pemalu mulai mengintip. Malam pun berubah temaram. Langit berubah menjadi kanvas hitam dengan semburat emas nan indah. Lekuk-lekuk pegunungan tampak bagai siluet nan bermandikan cahaya emas. Sang Raja pun menduduki tahtanya di bumi. Dengan gagahnya Ia mengalahkan sang Malam yang enggan beranjak.


Ini kalo gue yang motret, hasilnya keren begini, nih!
Sunrise nan cantik sekali. Kami pun berusaha mengabadikan setiap moment, detik-detik Sang Raja Pagi menduduki tahtanya di langit bumi. Jepret sini jepret sana, bagaikan seorang photographer kenamaan yang engga mau melewatkan objeknya berlalu begitu saja. Mas Sugeng sang guide pun kami berdayakan untuk menjadi private photographer yang bersedia memotret setiap gerak-gerik kami. Dan bagaikan model international, kami pun berpose ria.




dan seperti biasa... Cumink slalu bikin mupeng!!!!
Larut dalam syahdunya moment tersebut, kami pun menyanyikan lagu Indonesia raya bersama. Karena kami menyadari betul, bahwa bumi pertiwi ini amat sangatlah Indah, dan merupakan anugerah Tuhan yang harus di pelihara.

Pick-Up ini lah yang dengan gagahnya mendaki Gunung Purba demi mengantar kami meski bau kambing...
dan ini kambingnya... eh, Tari Imoet maksudnyah... kekeke


Setelah Sang Mentari duduk damai di singgasananya, dan hari pun sudah mulai terang, kami pun beranjak pergi. Tujuan kami selanjutnya adalah Embung, yang artinya adalah semacam waduk untuk mengairi persawahan masyarakat Gunung Purba di daerah Nglanggeran. Di daerah tersebut juga terdapat Kebun Buah yang sayangnya ketika kami datang belum berbuah sehingga kami tidak dapat menikmati buah-buahan khas Gunung Purba tersebut.



Pemandangan Embung di Kebun Buah Desa Nglanggeran


Tak berlama-lama di Embung tersebut, kami pun memutuskan untuk balik ke Homestay karena perut yang sudah menjerit lapar dan jadwal perjalanan kami yang masih panjang.

Setelah puas dengan suguhan sarapan di homestay kami, mandi dan packing, Innova sewaan kami kemarin pun datang menjemput tepat jam sepuluh pagi. Kami pun berpamitan dengan Mas Sugeng dan si Empunya rumah.

Tujuan selanjutnya adalah Gumuk Pasir di daerah Pantai Parangtritis. Sekitar tengah hari, kami tiba di Parangtritis, dan kami disambut dengan panasnya Matahari yang teramat sangat menyengat. Kami yang semula sangat bersemangat tiba-tiba pundung, enggan beranjak... apalagi keluar dari mobil yang ber-AC, There's no WAY! 

Pantai Parangtritis nan terkenal pun terlihat bagai wajan kompor dengan minyak yang mendidih bagi kami. Kami yang bahkan semula berniat mandi-mandi di pantai tersebut pun langsung berubah pikiran, "Pak, langsung ke Gumuk Pasir ajah, Pak! Panas Eui! Nanti di Gumuk Pasir juga foto-foto ajah bentaran, abis itu langsung ngacir ke mobil lagi, Pak! Panas Eui!" Dasar sekumpulan bocah yang ngaku-ngakunya backpacker padahal kepanasan dikit langsung pundung! Haha.

Benar saja, di Gumuk Pasir Pun, setelah kembali mengoles sun block,  dan bahkan gue sampai berpayung ria, lari ke tengah Gumuk Pasir, foto-foto bentar... dan lari lagi ke mobil... panaaaaaaaaasssss!!!!!


model ini model... hahaha
Biar panas, yang namanya model profesional tetep lompat setinggi mungkin :p
Kami pun kembali menuju Yogyakarta guna makan siang dan membeli oleh-oleh khas Yogya, apalagi kalo bukan Bakpia. Kami akan kembali ke Jakarta dengan Kereta Taksaka Pukul 19.30 WIB malam, dan kami pun menghabiskan sisa waktu kami menjelajahi Malioboro dengan sejuta ragam batiknya.


last but not least... MALIOBORO!!! (lagi...)
Begitulah perjalanan kami yang walau sesaat dan melelahkan, tapi cukup untuk menambah pengalaman dan moment dalam hidup kami.

Keesokan harinya, lanjut setelah kereta tiba di Gambir... kami langsung kembali ke meja kantor masing-masing dan bekerja dengan muka gosong, mata beler dan badan pegal-pegal... namun tak bisa di pungkiri... ada jiwa yang terpuaskan!

That's all for now... wish i could tell more story about traveling in the future, dan kalo engga pun, gue harap dan gue selalu berusaha agar hidup gue selalu menarik... dengan menciptakan hal-hal ajaib, keluar dari zona aman dan nyaman, mencari pengalaman baru tentang berbagai hal, dan belajar dari itu semua... karena, gue paling engga suka dengan kemonotonan dan stagnansi dalam hidup :)